Karya Cipta Bersama Indonesia

Dari CCID Wiki
Langsung ke: navigasi, cari
Ccid logo.png

Daftar isi

Didukung oleh

Latar belakang

Proyek “Prakarsa Creative Commons Indonesia” (CCID) adalah upaya penerapan dan sosialisasi lisensi-lisensi Creative Commons (CC) ke dalam yurisdiksi Indonesia dengan fokus kepada karya digital.
Wikimedia Indonesia (WMID) memandang perlu dan memprakarsai adaptasi lisensi CC ke dalam yurisdiksi Indonesia karena lisensi CC membantu pencipta untuk mempertahankan hak ciptanya sambil sekaligus mengizinkan orang lain yang memerlukan untuk menyalin, menyebarkan, dan menggunakan karya cipta sesuai dengan syarat yang diinginkan oleh pencipta.

Lisensi Creative Commons

Dengan berbagai kombinasi hak dasar yang ditawarkannya, lisensi CC merupakan jembatan antara hak cipta tradisional (copyright) dengan kebebasan yang dibawa oleh gerakan perangkat lunak bebas (copyleft): pencipta dapat memilih hak apa yang ingin dipertahankannya dan pengguna dapat dengan mudah mengetahui apa yang dapat dilakukan terhadap suatu karya.
Lisensi CC adalah lisensi-lisensi hak cipta yang mengizinkan distribusi karya berhak cipta dengan kombinasi dari empat hak/syarat dasar (baseline rights): atribusi, nonkomersial, tanpa turunan, dan berbagi serupa.
  1. Atribusi (attribution, BY) mensyaratkan penyebutan pencipta sesuai permintaan pencipta.
  2. Nonkomersial (noncommercial, ND) mensyaratkan penggunaan bukan untuk keperluan komersial.
  3. Tanpa turunan (no derivative works, ND) mensyaratkan penggunaan salinan verbatim (sama persis), bukan modifikasi dari karya asli.
  4. Berbagi serupa (share-alike, SA) mensyaratkan penggunaan lisensi serupa untuk karya yang dibuat berdasarkan karya asli.
Ada enam kombinasi hak dasar yang umum diterapkan sebagai lisensi CC, yaitu BY (atribusi), BY-NC (atribusi nonkomersial), BY-ND (atribusi tanpa turunan), BY-SA (atribusi berbagi serupa), BY-NC-ND (atribusi nonkomersial tanpa turunan), dan BY-NC-SA (atribusi nonkomersial berbagi serupa). Keenam lisensi CC umum ini diterapkan melalui lambang lisensi yang mudah dikenali serta dilengkapi dengan tiga format lisensi sesuai kebutuhan masing-masing: format hukum (legal code) berupa naskah lisensi lengkap untuk keperluan advokat; format sederhana (human readable) yang mudah dibaca pengguna awam seperti pencipta dan pengguna; serta format mesin (machine readable) berupa standardisasi uraian lisensi untuk dapat dibaca oleh perangkat lunak.
Lisensi CC ditujukan untuk dapat berlaku di seluruh dunia karena dibuat dengan menggunakan terminologi standar Konvensi Berne (Berne Convention for the Protection of Literary and Artistic Works) dan berbagai perjanjian internasional lain yang terkait dengan hak cipta dan hak kekayaan intelektual (HKI). Meskipun demikian, Creative Commons International (CCi) mengoordinasikan suatu prosedur untuk mengadaptasi lisensi CC ke dalam yurisdiksi suatu negara melalui penerjemahan lisensi ke dalam bahasa resmi suatu negara dan penyesuaian dengan konteks hukum dalam negara tersebut. Adaptasi ini diharapkan dapat membuat penerapan lisensi CC pada suatu negara menjadi lebih efektif. Hingga Maret 2011, lisensi CC telah dan akan diadaptasi ke dalam lebih dari 70 yurisdiksi di seluruh dunia.

Hak Cipta di Indonesia

Indonesia telah meratifikasi beberapa perjanjian internasional yang terkait dengan HKI seperti Agreement on Trade Related Aspects of Intellectual Property Rights (TRIPS) pada tahun 1994, Konvensi Bern pada tahun 1997, dan World Intellectual Property Organization Copyrights Treaty (WIPO) pada tahun 1997. Semua perjanjian internasional yang telah diratifikasi oleh Indonesia tersebut tecermin pada peraturan-peraturan HKI yang dibuat oleh pemerintah Indonesia, seperti Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2001 (UU 14/2001) tentang Paten, UU 15/2001 tentang Merek, dan UU 19/2002 tentang Hak Cipta. Lembaga pemerintah yang bertugas merumuskan dan melaksanakan kebijakan dan standarisasi teknis di bidang HKI adalah Direktorat Jenderal Hak Kekayaan Intelektual (Ditjen HKI) yang berada di bawah Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia Indonesia (Kemenhukham).
Meskipun demikian, dunia internasional menganggap perlindungan dan penegakan hak cipta di Indonesia belum cukup memadai. Laporan Special 301 tahun 2010 dari International Intellectual Property Alliance (IIPA) memasukkan Indonesia sebagai salah satu dari 12 negara daftar pantauan prioritas (priority watch list) yang belum memberikan perlindungan dan penegakan hukum hak cipta dengan memadai. IIPA memiliki pengaruh besar terhadap kebijakan pemerintah Amerika Serikat (AS karena bekerja sama dengan Office of the United States Trade Representatived (USTR), lembaga yang bertanggung jawab atas kebijakan perdagangan AS.
Salah satu penyebab rendahnya penegakan hak cipta di Indonesia adalah kurangnya pemahaman masyarakat Indonesia tentang hak cipta. Pemahaman ini dapat ditingkatkan melalui pernyataan hak cipta spesifik dalam bahasa yang mudah dipahami serta melalui pendidikan publik tentang hak cipta. Dua hal ini adalah tujuan utama proyek CCID ini.

Penerapan lisensi CC di Indonesia

Penerapan lisensi CC di Indonesia pada dasarnya tidak mengubah peraturan perundang-undangan di bidang HKI. Dalam pasal 45 UU 19/2002 terdapat ketentuan yang memperbolehkan pemberian lisensi hak cipta dan lisensi CC adalah salah satu model lisensi yang dimaksud dalam ketentuan tersebut. Keluwesan pemilihan jenis hak cipta serta kemudahan pemahaman apa yang dapat dilakukan terhadap suatu ciptaan merupakan dua hal utama yang membuat lisensi CC tepat untuk diterapkan di Indonesia. Pencipta dan pengguna ciptaan akan mendapat manfaat yang besar dengan penerapan lisensi CC di Indonesi..
CCID membuka peluang kepada para pencipta untuk memilih lisensi yang sesuai dengan keinginan mereka; suatu hal yang tidak dimungkinkan dengan hak cipta tradisional yang terlalu kaku atau gerakan perangkat lunak bebas yang terlalu bebas. CCID juga memungkinkan pencantuman lisensi secara jelas dan sederhana sehingga maksud pencipta dapat tersampaikan kepada pengguna. Dengan kemudahan ini, semakin banyak pencipta yang akan mencantumkan lisensi karyanya secara eksplisit dan semakin banyak pengguna yang dapat memanfaatkan karya tersebut sesuai dengan aturan yang telah ditetapkan pencipta. Pada akhirnya, kesadaran umum tentang hak cipta akan terbentuk melalui praktik nyata ini.
Tantangan terbesar yang dihadapi dalam penerapan lisensi CC di Indonesia adalah penyesuaian dengan konteks hukum Indonesia. Kajian awal terhadap peraturan hak cipta Indonesia menunjukkan bahwa pada dasarnya semua konsep dalam lisensi CC dapat diterapkan, meskipun dengan sedikit penyesuaian terminologi dan kondisi. Hal ini terutama disebabkan karena Indonesia telah meratifikasi berbagai peraturan HKI internasional dan lisensi CC selaras dengan berbagai peraturan tersebut. Tantangan lain berupa penyampaian informasi kepada publik pun dapat ditangani melalui berbagai kegiatan sosialisasi yang menjadi bagian dari kegiatan proyek.

Prakarsa dan Tujuan

Hasil akhir yang diharapkan dari proyek ini adalah (1) adaptasi lisensi CC ke dalam bahasa Indonesia sesuai dengan konteks hukum Indonesia dan (2) tumbuhnya kesadaran masyarakat, terutama kalangan pengguna internet, terhadap hak cipta pada umumnya dan lisensi CC pada khususnya.
Adaptasi linguistik dan hukum dari lisensi CC diharapkan dapat mengefektifkan penegakan hak cipta sekaligus mendorong penyebaran dan pemanfaatan karya. Para pencipta menjadi lebih nyaman berkreasi karena lebih yakin akan perlindungan karyanya dan, di sisi lain, masyarakat luas lebih mudah memanfaatkan karya dengan mengetahui apa yang dapat dilakukan terhadap suatu karya. Ini dapat tercapai dengan adanya lisensi dalam bahasa Indonesia yang sesuai dengan konteks Indonesia yang juga merupakan tujuan jangka pendek dari proyek ini.
Kesadaran akan hak cipta merupakan salah satu ciri masyarakat yang berbudaya dan sadar hukum. Salah satu hambatan dalam pencapaian hal ini adalah ketidakjelasan aturan dan kesulitan penggunaan karena aturan hak cipta yang terlalu kaku. Kemudahan pengenalan aturan melalui simbol-simbol sederhana dan keluwesan kombinasi hak cipta pada lisensi CC diharapkan dapat membuat hambatan-hambatan tersebut dapat dikurangi. Peningkatan kesadaran hak cipta dalam masyarakat Indonesia merupakan tujuan jangka panjang dari proyek ini.


Aktivitas

Proyek ini dibagi menjadi enam aktivitas utama, yaitu (1) persiapan, (2) pembuatan draf pertama, (3) diskusi publik, (4) pembuatan draf kedua, (5) peluncuran, dan (6) sosialisasi.

Persiapan

Tahap pertama, persiapan, mencakup peninjauan ulang kesiapan proyek dan perencanaan aktivitas keseluruhan proyek. Pada tahap ini, kegiatan yang dilakukan antara lain adalah sebagai berikut.
  1. Menjalin komunikasi dengan CCi tentang pelaksanaan CCID.
  2. Menyiapkan rencana kerja dan anggaran.
  3. Mengajukan proposal kegiatan.
Tahapan ini dilakukan secara internal dengan melibatkan CCi melalui komunikasi elektronis dan akan memakan waktu 2,5 bulan.

Pembuatan draf pertama

Tahap kedua, pembuatan draf pertama, berturut-turut meliputi kegiatan berikut
  1. Menerjemahkan lisensi BY-NC-SA (lisensi CC yang paling komprehensif) ke dalam bahasa Indonesia.
  2. Menyelaraskan istilah dengan terminologi hukum Indonesia.
  3. Menyelaraskan konteks lisensi dengan aturan hukum Indonesia.
  4. Menerjemahkan balik lisensi yang sudah diselaraskan ke dalam bahasa Inggris.
  5. Mengirim dan mendiskusikan hasil terjemahan balik lisensi CC dengan CCi.
Tahapan ini dilakukan secara internal dengan melibatkan CCi melalui komunikasi elektronis dan akan memakan waktu 1 bulan.

Diskusi publik

Draf pertama yang telah diajukan kepada CCi selanjutnya dibahas secara terbuka dengan berbagai pemangku kepentingan yang terlibat selama 9 bulan. Diskusi dilakukan melalui tiga media, yaitu pertemuan, milis, dan situs web. Kegiatan ini merupakan kegiatan pertama yang diharapkan dapat memupuk kesadaran publik terhadap hak cipta pada umumnya dan lisensi CC pada khususnya.
Pertemuan publik dilakukan sebanyak tujuh kali di berbagai kota di Indonesia dengan mengundang berbagai pemangku kepentingan yang terkait. Diskusi dilakukan di kampus perguruan tinggi yang memiliki fakultas hukum untuk menciptakan kondisi diskusi ilmiah yang dibutuhkan.
Milis publik dibuka dengan mengundang para pemangku kepentingan terkait dan disosialisasikan melalui berbagai media. Diskusi melalui media ini akan terus berlangsung dan terbuka.
Situs web publik digunakan sebagai media diseminasi informasi kegiatan dan dokumen terkait dengan CCID. Situs ini akan dipelihara secara berkelanjutan.

Pembuatan draf kedua

Berdasarkan masukan dari kegiatan diskusi publik, pemimpin proyek menyusun draf kedua dengan langkah-langkah yang serupa dengan penyusunan draf pertama. Diskusi melalui milis publik dan pembaruan isi situs web tetap dilakukan untuk memfasilitasi masukan tambahan dan menyebarkan informasi, namun diskusi dalam bentuk pertemuan publik tidak dilakukan. Kegiatan ini berlangsung selama 1 bulan.

Peluncuran

Draf kedua yang telah disetujui oleh CCi difinalisasi dengan melengkapi berbagai keperluan administratif tambahan. Peluncuran adaptasi lisensi CC dilakukan dalam acara berskala nasional dengan melibatkan media massa untuk diseminasi informasi. Persiapan dan pelaksaan kegiatan ini akan berlangsung selama 1 bulan.

Sosialisasi

Setelah peluncuran, CCID mulai melakukan kegiatan advokasi lisensi CC berupa hal-hal sebagai berikut.
  1. Menyediakan format standar teguran pelanggaran untuk dikirim sendiri oleh pencipta.
  2. Menyediakan layanan somasi hukum melalui advokat mitra CCID.
  3. Memfasilitasi perundingan antara pihak-pihak yang bersengketa melalui advokat mitra CCID.
  4. Memfasilitasi tuntutan hukum melalui advokat mitra CCID.
Sosialisasi juga dilakukan melalui perjalanan keliling dalam bentuk seminar pengenalan CCID ke berbagai kota di Indonesia. Kegiatan ini akan berlangsung selama 10 bulan.

Indikator Keberhasilan

Indikator yang akan digunakan untuk mengukur keberhasilan proyek secara menyeluruh dapat dibagi menjadi indikator kualitatif dan kuantitatif.

Indikator kualitatif

Secara kualitatif, keberhasilan pencapaian tujuan proyek dapat diukur melalui survei kesadaran hak cipta publik. Secara berkala akan diselenggarakan survei melalui situs web atau media lain untuk melakukan pengukuran ini.
Kuesioner akan disebarkan saat perjalanan keliling dalam rangka sosialisasi CCID. Hasil dari kuesioner juga merupakan suatu indikator kualitatif yang sekaligus dapat dipakai sebagai umpan balik bagi proyek.

Indikator kuantitatif

Indikator kuantitatif yang digunakan untuk mengukur keberhasilan proyek antara lain adalah sebagai berikut.
  1. Jumlah pengguna lisensi adaptasi Indonesia CC
  2. Jumlah pengunjung situs CCID
  3. Jumlah kasus pelanggaran yang dilaporkan
Metrik indikator kuantitatif akan dikembangkan lebih lanjut sejalan dengan pengembangan lingkup proyek.

Umum

Panitia

Akun
Ruang nama
Varian
Tindakan
Navigasi
Peralatan